SIMPUL - SIMPUL KEAGAMAAN : TAQWA , TAWWAKAL dan IKHLAS
Makalah
Studi Islam
SIMPUL - SIMPUL KEAGAMAAN : TAQWA , TAWWAKAL dan
IKHLAS
Disusun
oleh :
PRIMANITA AULIA (11150530000050)
WULAN NURAENI(11150530000052)
ZULFA
AENUN NISA (11150530000064)
Kelas :
MD
1(B)
JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
TAHUN 1436 H / 2015 M
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikumWr.Wb.
Puji syukur tak lupa kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
segala rahmatnya kelompok kami dapat menyelesaikan tugas makalah pancasila dalam
kajian sejarah bangsa Indonesia dengan baik. Sholawat serta salam senantiasa
tercurah kepada junjungan nabi besar kita Nabi Muhammad SAW beserta para
keluarga dan sahabatnya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan makalah ini baik seacara langsung maupun tidak
langsung.Makalah ini kami susun guna memenuhi mata kuliah Pancasila Oleh Dosen
Pengampu.Kami juga mengucapkan terima kasih kepada beliau yang telah membimbing
kami sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan.Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun.Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca.Aamiin Yaa mujiibassaaailiin.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR……………………………………...….i
DAFTAR ISI ……………………………...………………..…ii
BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………..1
a.Latar Belakang
Masalah…………………………….......1
b.Rumusan
Masalah…………………………...………….1
c.Tujuan Pembahasan Masalah………………….......…....1
BAB 2 PEMBAHASAN
……………………………………....2
a.Makna
Islam……………………………………………..2
b.Makna
Taqwa……………………………………………2
c.Makna
Tawakal………………………………………….3
d.Makna
Ikhlas…………………………………………….4
e,Korelasi Antara Taqwa,Tawakal dan Ikhlas dalam
Beribdah……………………………………………...….4
BAB 3
PENUTUPAN…………………………………….........5
a.Kesimpulan…………………….......................................5
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………….........6
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perbendaharaan kata sehari-hari,
di samping perkataan iman, islam, dan ihsan, dikenal dan digunakan secara
meluas perkataan taqwa, tawakal, dan ikhlas. Semuanya menunjukkan pribadi
seorang yang beriman kepada Allah. Kualitas-kualitas itu membentuk
simpul-simpul keagamaan pribadi, sebab semuanya terletak dalam inti kedirian
seseorang dan berpangkal pada batin dalam lubuk hatinya.
B. Rumusan masalah
Dalam
makalah ini penulis mengidentifikasikan rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa itu makna
islam?
2.
Apa itu makna
taqwa?
3.
Apa itu makna
tawakal?
4.
Apa itu makna ikhlas?
5.
Bagaimana korelasi antara islam, taqwa, dan tawakal?
C. Tujuan Pembahasan Makalah
1. Agar
mahasiswa mengetahui penjelasan mengenai makna islam.
2. Agar
mahasiswa mengetahui penjelasan mengenai makna takwa
3. Agar
mahasiswa mengetahui penjelasan mengenai makna tawakal
4. Agar
mahasiswa mengetahui penjelasan mengenai makna ikhlas
5. Agar
mahasiswa mengetahui korelasi antara islam, taqwa, dan tawakal dalam beribadah
PEMBAHASAN
A. Makna Islam
Kata secara bahasa asal kata islam berasal dari bahasa arab
‘salima’ yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya
menyerahkan diri atau tunduk dan patuh.
Keagamaan dalam makna intinya
sebagai kepatuhan yang total kepada Tuhan, menuntut sikap pasrah kepada-Nya
yang total (islam) pula, (sehingga
tidak ada kepatuhan yang sejati tanpa sikap pasrah). Inilah sesungguhnya makna
firman Ilahi dalam Q.S Al-Imran 3:19 “Innaddina
‘indallahil-islam”, “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam”. Firman
lain yang berkaitan langsung dengan ini adalah Q.S Al-Imran 3:85, “Dan barang
siapa yang mengikuti agama selain al-islam
(sikap pasrah kepada Tuhan), maka ia tidak akan diterima, dan di akhirat ia
akan termasuk golongan yang merugi”,
penegasan bahwa beragama tanpa sikap pasrah itu tak bermakna.
B. Makna Taqwa
Makna berasal dari bahasa arab ‘waqa’ yang
artinyaa menjaga,melindungi hati-hati, waspada, memperhatikan dan menjahui
.secara istilah taqwa adalah menjalankan apa yang menjadi perintah-Nya dan
menjahui segala apa yang dilarang-Nya. Pada saat nabi berada di mekkah pernah terjadi pergantian arah kiblat dari
semula yang menghadap arah masjidil aqsa Allah menurunkan firman-Nya kepada
nabi untuk mengubah arah kiblat ke ka’bah.
masalah arah menghadap dalam beribadah bukanlah hal yang sedemikian
prinsipilnya sehingga harus dipandang sebagai kebajikan (al-birr) itu sendiri.ia berfungsi sebagai lambang sesuatu yang
lebih hakiki, yaitu ketaatan kepada Tuhan dan kesatuan pandangan hidup kaum
beriman.
Nilai-nilai yang disebutkan dalam
firman itu, menurut A.Yusuf Ali, berkisar sekitar 4 hal, yaitu: (1) Keimanan
kita harus sejati dan murni, (2) Kita harus siap untuk memancarkan iman ke luar
dalm bentuk tindakan kemanusiaan kepada sesama, (3) Kita harus menjamkdi warga
masyarakat yang baik, yang mendukung sendi-sendi kehidupan, dan (4) Jiwa
pribadi kita sendiri harus teguh dan tak goyah dalam setiap keadaan. Semuanya
itu saling berkait, namun bisa dipandang secara terpisah.
Makna
taqwa sendiri secara umum yaitu ‘kesadaran ketuhanan’ bahwa kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dapat mendorong kita untuk bisa mengikuti
garis-garis yang diridhoi-Nya .kesadaran ini akan ada secara alami untuk dapat
berbuat baik sebab kesadaran ini muncul dari hati nurani atau kalqbu kita.
Sehingga dengan sendirinya dia akan muncul sebuah kesadaran akhlaki manusia.
C. Makna Tawakal
Secara harfiah, “tawakal” bersandar
atau mempercayai diri. Dalam agama, tawakal ialah sikap bersandar dan
mempercayakan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Karena mengandung makna
“mempercayakan diri”, maka tawakal merupakan implikasi langsung iman. Tidak ada
taawakal tanpa iman, dan tidak ada iman tanpa tawakal. “Dan kepada Allah
hendaknya kamu sekalian bertawakal, kalau benar kamu adalah orang-orang yang
beriman”.
Dalam kitab suci, seruan kepada manusia untuk bertawakal kepada Allah
itu dikaitkan dengan berbagai ajaran dan nilai:
1. Tawakal kepada
Allah diperlukan setiap kali sehabis mengambil keputusan penting, guna
memperoleh keteguhan hati dan ketabahan dalam melaksanakannyaa, serta agar
tidak mudah mengubah keputusan itu.
2. Tawakal juga
diperlukan untuk mendukung perdamaian antara sesama manusia, terutama jika
perdamaian itu ujuga dikehendaki oleh mereka yang memusuhi kita.
3. Tawakal kepada
Allah juga dilakukan karena Dialah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati . dialah
Realita Mutlak dan Maha Suci, yang senantiasa memperhitungkan perbuatan
hamba-hamba-Nya.
4. Kita bertawakal
kepada Allah karena Dialah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Dengan tawakal
kita mengahapus kekhawatiran kepada pencipta kita sendiri dengan segala
kemuliaan dan kebijaksanaan-Nya.
Tawaqal bukanlah
sikap pasif dan sikap melarikan diri dari kenyataan. Tawaqal adalah sikap aktif
yang tumbuh dari pribadi yang bisa memahami hidup dengan serta merta menerima
kenyataan hidup dengan tepat pula. Sebab pangkal tawakal adalah kesadaran diri
untuk bisa menginsafi dan mengakui keterbatasan dirisendiri setelah usaha yang optimal,
dan untuk menerima kenyataanbahwa tidak semua persoalan dapat di kuasai dan
diatasi tanpa bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa.Maka jika tawakal melandasi
kesadaran berbuat baik demi ridha-Nya ini dapat menjadi sumber kekuatan jiwa
dan keteguhan hati dalam menempuh hidup yang penuh tantangan dan tidak
sepenuhnya dapat dipahami, terutama dalam perjuangan dalam memperoleh
ridho-Nya.
D. Makna Ikhlas
a)
Pengertian
ikhlas
Seorang
suhfi terkenal, Ibnu Atha illah, al-Sakandari mengatakan bahwa “Amal perbuatan adalah
bentuk-bentuk lahiriah yang tegak, sedangkan ruh amal perbuatan itu ialah
adanya rahasia keikhlasan di dalamnya”. Ikhlas meruapakan ketulusan seseorang
dalam beribadah dengan kesaksiannya akan adanya hak pada Tuhan Yng Maha Benar
semata untuk membuat orang itu bergerak dengan sendirinya.
Maka keikhlasan setaiap hamba Tuhan
adalah ruh amal perbuatan, keikhlasan itulah yang membuat hidupnya menjadi amal
dan kepatutannya untuk berdekat diri kepada Allah dan menjadikannya kepantasaan
diterimanya amal ibadah yang dilakukannya. Tapi tanpa keikhlasan itu maka
matilah semua am tersebut dan jauh dari derajat pengakuan . keikhlasan bukanlah
hal yang statis , yang sekali terwujud akan tetap bertahan selamanya, melainkan
ikhlas bersifat dinamis , yang senantiasa menuntut kesungguhan pemeliharaan dan
peningkatan.keikhlasan atau kemurnian batin adalah nilai yang sangat rahasia
dalam diri seseorang. Ia merupakan ruh dari segala perbuatan yang kita lakukan
. nilai iklas tidak dapat dilihat dari ucapan seseorang yang engatakannya .
sebab nilai ikhlas ada di dala hati manusia yang hanya dia dan Allah yang mengetahui
nilai keikhlasan tersebut.
b)
Ciri-ciri
Ikhlas
·
Senantiasa beramal
dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri ataupun
bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan.
·
Terjaga dari
segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari
mereka.
·
Dalam dakwah, akan
terlihat bahwa seorang da’I yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan akan
terealisasi di tangan saudaranya sesama da’i, sebagaimana ia juga merasa senang
jika terlaksana oleh tangannya.
3
E.Korelasi Antara Taqwa, Tawakal, Dan
Ikhlas
Karena itu keterkaitan antara
kualitas-kualitas taqwa, tawakal, dan ikhlas dengan kesadaran berkeTuhanan.
Oleh sebab itu, sebagai simpul-simpul keagamaan (religiositas) pribadi, kualitas-kualitas taqwa, tawakal, dan
ikhlas merupakan bagian penting berbagai wujud nyata kepasrahan total kepada
Tuhan di tingkat perorangan. Kualita-kualitas itu menjadi sumber perilaku orang
bersangkutan dalam pergaulannya dengan sesama manusia, dan ikut memberi bentuk
serta warna pola pergaulan itu. Sebagaimana dimensi sosial kehidupan manusia
sebagian ditentukkan oleh sum total kepribadian
para anggotanya, maka taqwa, tawakal, dan ikhlas pribadi itu ikut menentukkan
corak masyarakat dan berpengaruh pada kuat-lemahnya serta tinggi-rendahnya
kualitas masyarakat itu.
BAB 3
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Jadi
antara taqwa, tawakal, dan ikhlas pada dasarnya satu kesatuan dalam ajaran
islam. Ketiga unsur tersebut dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan dalam
usaha pencapaian kita menggapai ridha-Nya.
Agar
ibadah yang kita lakukan bukannya hanya dijadikan sebagai penggugur kewajiban,
tetapi ibadah kita juga bernilai atau berkualitas dihadapan Allah swt.
Majid
Nurcholish, Islam doktrin dan peradaban,
(Jakarta: Yayasan Wakaf PARAMADINA, 2000). cet. 4
https://googleweblight.com/?lite_url=http:www.dakwatuna.com/2008/05/03/582/tiga-ciri-orang-ikhlas/#ax223nviCDIIL

Komentar
Posting Komentar